Rabu, 01 Februari 2017

laboratorium dan ruangan kuljar

LABORATORIUM DAN RUANGAN
KULTUR JARINGAN

Dalam kultur jaringan, pertumbuhan eksplan atau inokulum diusahakan dalam lingkungan aseptik dan terkendali. Implikasi dari keadaan ini adalah bahwa setiap langkah dalam pelaksanaanya harus dilakukan dalam laboratorium. Laboratorium yang efektif merupakan salah satu unsur penting yang ikut menentukan keberhasilan suatu kegiatan, baik untuk keperluan peneletian, maupun produksi. Laboratorium kultur jaringan sebaiknya mempunyai pembagian ruangan yang diatur sedemikian rupa sehingga setiap kegiatan terpisah satu dengan yang lainya, tetapi juga saling berhubungan dan mudah dicapai.
Penataan ruangan dalam laboratorium, dikaitkan dengan langkah-langkah dalam prosedur kultur jaringan dan alat-alat yang diperlukan. Kegiatan kultur jaringan di dalam laboratorium, dibagi dalam 3 kelompok yaitu :
(1) Persiapan media dan bahan tanaman.
(2) Isolasi dan penanaman.
(3) Inkubasi dan penyinaran kultur.
Masing-masing kegiatan harus terpisah satu dengan lainya, dengan peralatan yang tersendiri, karena kegiatan-kegiatan tersebut, maka ruangan yang dibutuhkan adalah :
1. Ruang persiapan dan ruang stok
2. Ruang isolasi dan penanaman.
3. Ruang kultur.
5. Ruang mikroskop atau ruang analisa.

Ruang kultur biasanya merupakan ruang yang terbesar dari ruang laboratorium dan harus dipikirkan kemungkinan perluasan. Ruang persiapan dan ruang transfer tergantung dari jumlah dan besar alat-alat, sedangkan ruang stok merupakan ruangan terkecil dan tergantung dari macam pekerjaan, kadang-kadang dibutuhkan ruang mikroskop dan/atau ruang analisa. Ukuran tiap ruangan sangat tergantung dari: A. Alat-alat yang dipergunakan; B. Jumlah personalisa yang terlibat; C. Tujuan pekerjaan; D. kapasitas produksi; E. Biaya yang tersedia.
Ruangan laboratorium harus dijaga tetap bersih, serta bebas dari hewan kecil seperti tikus dan insek (lalat, semut, kecoa dan lain-lain). Sarana dasar seperti : aliran listrik yang cukup, air yang lancar, dan gas, merupakan perlengkapan yang dapat dikatakan harus dimiliki.

1. Ruang persiapan dan ruang stok
Ruang ini merupakan bagian pusat kegiatan laboratories dimana sebagian besar aktifitas kegiatan dikerjakan diruang ini. Aktifitas-aktifitas yang dikerjakan disini antara lain mempersipakan media kultur dan bahan tanaman yang akan dipergunakan, sebagai tempat mencuci alat-alat laboratorium dan tempat menyimpan alat-alat gelas. Fasilitas yang dibutuhkan dalam ruangan ini adalah meja tempat meletakkan alat-alat pemanas, meja untuk alat-alat timbang, meja untuk bekerja dan tempat mencuci.
Persiapan media meliputi penimbangan bahan, pengenceran media, penuangan ke dalam wadah kultur dan sterilisasi. Persiapan bahan tanaman meliputi pencucian kotoran-kotoran dari lapangan, pembuangan dan pemotongan bagian-bagian yang tidak diperlukan serta perlakuan awal untuk mengurangi sumber kontaminasi yang ada pada permukaan bahan tanaman.
Peralatan yang diletakkan dalam ruangan ini terdiri dari :
1. Timbangan analitik timbangan makro.
2. Refrigerator , Freezer dan desikator.
3. Hot plate yang dilengkapi stirrer atau kompor gas
4. Stirrer dengan magnetic stirrer.
5. Autoklaf vertical atau horizontal.
6. Microwave oven.
7. pH meter.
8. agar dispenser.
9. Oven.
10. Destiltor
11. Water bath yang dilengkapi pengatur temperatur
12. Centrifuge dan Vortex
13. Alat-alat gelas standard, antara lain: labu takar berbagai ukuran, pipet biasa dan mikro pipet, erlenmeyer berbagai ukuran (100 ml, 250 ml, 500 ml, 1000 ml), gelas piala berukuran (100 ml, 250 ml, 500 ml, 1000 ml), pengaduk gelas, wadah kultur : botol, tabung reaksi, cawan petri, gelas ukur dalam berbagai ukuran.
14. Alat untuk mencuci.
15. Rak-rak pengering.
16. Lemari alat-alat, bahan kimia, serta bahan-bahan lain (alumunium foil, kertas timbang, karet gelang dan sebagainya).
17. Alat-alat kecil: spatula, pisau , scalpel dan pinset.
18. Fume hood (ruang asam)
19. Hood tempat penimbangan bahan-bahan yang carcinogenic.
20. Kereta dorong (cart) untuk memudahkan pemindahan alat-alat dan media dari ruang satu ke ruang lainnya.
Ruang stok sangat diperlukan untuk menyimpan larutan stok makronutrien, mikronutrien, senyawa khelat (Fe-EDTA), vitamin dan zat pengatur tumbuh. Pada skala laboratories ruang stok cukup kulkas (refrigerator), freezer, akan tetapi untuk skala industri dibutuhkan ruangan yang lebih besar, sehingga ruang ini berupa kamar yang berukuran sesuai kebutuhan, misalnya berukuran 3 x 3 x 3 m3 .
Untuk meningkatkan efisiensi kerja dalam pelaksanaan kultur jaringan, keperluan dalam tiap tahapan kerja sudah direncanakan terlebih dahulu. Sebelum pekerjaan penanaman baru dan subkultur rutin dilakukan, media tumbuh sudah dipersiapkan minimum 3 hari sebelum diperlukan. Media-media yang dipersiapkan ini harus disimpan di ruang yang dingin dan gelap. Ruang untuk penyimpanan media-media yang disediakan ini disebut ruang stok. Ruang stok harus berhubungan langsung 2 arah, satu arah dengan ruang persiapan dan arah lain dengan ruang transfer. Kebersihan ruangan harus diperhatikan. Tidak ada alat-alat yang diletakkan dalam ruang stok, Hanya perlu rak-rak untuk meletakkan media. Larutan stok yang sudah mengalami pengendapan atau terkontaminasi sebaiknya tidak digunakan lagi dan segera dikeluarkan dari ruang stok supaya tidak memenuhi ruangan.

2. Ruang isolasi dan penanaman
Ruang isolasi sering diistalahkan dengan ruang steril atau ruang tabur. Ruangan ini untuk skala laboratories biasanya tidak begitu luas karena biasanya berisi satu laminar air flow yang diperuntukkan untuk seorang atau dua orang bekerja di dalamnya, akan tetapi untuk skala industri ruangan ini biasanya luas atau sangat luas tergantung berapa kapasitas orang yang bekerja sacara bersama-sama seperti gambar dibawah ini.
Ruang penabur harus selalu terjaga kebersihannya atau kesterilannya. Setiap akan dan selesai kegiatan penanaman eksplan selalu dibersihkan dan disterilkan menggunakan alcohol 70% atau spiritus, terutama pada meja laminar air flow, sedangkan lantai dan dinding ruangan dibersihkan dengan larutan pembersih lantai yang dilengkapi oleh desinfektan.
Di dalam ruangan Laminar air flow biasanya dilengkapi dengan lampu UV untuk sterilisasi ruangan di dalam LAF tersebut. Alat-alat yang selalu tersedia di dalam ruangan penabur selain LAF, adalah lampu Bunsen, hand sprayer, peralatan untuk isolasi eksplan yang sudah disterilkan dan rak dorong.

3. Ruang kultur.
Teknik kultur jaringan akan berhasil sukses bila dikerjakan di dalam laboratorium yang bersih dan steril, ruangan yang kering dan dilengkapi untuk memproteksi spora udara dari mikroorganisme. Sangat dianjurkan ruangan selalu bebas dari debu, sebelum melakukan segala aktifitas. Kultur jaringan tanaman harus diinkubasikan di bawah kondisi temperatur, pencahayaan, fotoperiode, kelembaban dan sirkulasi udara yang terkontrol.
Ruang inkubasi kultur biasanya merupakan ruang besar dengan kemungkinan perluasan bila diperlukan. Pertambahan kultur terjadi secara periodik disebabkan pertumbuhan satu jenis atau penambahan jenis kultur baru. Kultur yang tumbuh dan telah memperbanyak diri, secara teratur harus disubkultur. Tergantung dari jenis tanaman dan besarnya wadah kultur, subkultur dapat dilakukan setiap 4-6 minggu sekali. Hal ini berarti tiap bulan ada pelipatan jumlah kultur.
Botol kultur, biasa diatur pada rak-rak terbuka yang bersusun untuk menghemat area. Jarak antara tiap lapisan rak pada umumnya 40-50 cm. Jarak antara rak harus diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan lalu lintas pemeriksaan kultur. Di dalam ruang kultur pada keadaan tersusun di rak, lingkungan fisik pertumbuhan diatur sedemikian rupa sehingga mendukung pertumbuhan yang optimal. Studi yang sistematik tentang efek lingkungan ruang kultur untuk tiap tahap pertumbuhan eksplan, sangat jarang dilakukan. Namun secara garis besar, ruang kultur harus mempunyai pengaturan terhadap temperatur dan cahaya.
Eksplan memang sudah dipenuhi kebutuhan karbohidrat dari gula dan media, sehingga cahaya untuk keperluan fotosintetis tidak begitu mendesak, tetapi cahaya amat penting untuk pengendalian perkembangan eksplan. Unsur-unsur dari cahaya yang perlu diperhatikan adalah kwalitas cahaya, panjang penyinaran, dan intensitas cahaya. Temperatur ruang kultur juga menentukan respon fisiologi kultur dan kecepatan pertumbuhannya.
Kualitas cahaya. Cahaya putih merupakan cahaya yang baik untuk pertumbuhan kultur. Lampu fluorescent biasa digunakan sebagai sumber cahaya dalam ruang kultur. Keseimbangan spektrum lampu fluorescent sangat baik dan sangat efisien dalam penggunaan energi bila dibandingkan dengan lampu pijar. Bentuk lampu memungkinkan penyebaran cahaya yang baik, dengan panas yang dikeluarkan relatif rendah. Pada lampu pijar, hampir 90 persen merupakan energi panas sehingga mempengaruhi temperatur ruangan. Kadang-kadang pada kultur tertentu, campuran cahaya dari lampu pijar dan fluorescent memberi pertumbuhan yang lebih baik.

Intensitas cahaya. Intensitas cahay yang baik dari lampu fluorescent adalah antara 1000-400 ft-c (1000-4000 lux). Murashige menyatakan bahwa pengaruh penyinaran dalam pertumbuhan asparagus, Gerbera, dan Saxifraga secara in vitro, yang terbaik dalah 1000 ft-c untuk multiplikasi tunas, dan 300-1000 ft-c untuk perakaran tunas. Intensitas cahaya diatur dengan menempatkan jumlah lampu dengan kekuatan tertentu pada jarak antara 40-50 cm dari tabung kultur, untuk luas area tertentu.
Panjang penyinaran. Total cahaya yang dibutuhkan suatu tanaman merupakan fungsi dari periode penyinaran. Berapa lama cahaya harus diberikan, tergantung dari jenis tanaman dan respon yang diinginkan. Ada kultur yang membutuhkan penyinaran terus-menerus, tapi banyak juga penelitian yang memperoleh hasil bahwa penggunaan panjang penyinaran selama 14-16 jam memberikan hasil yang baik. Pada tanaman tertentu membutuhkan penyinaran 10 jam, dan sebagainya. Panjang penyinaran diatur dengan alat automatic time switch atau lebih umum disebut timer.
Temperatur. Temperatur di dalam ruang kultur diharapkan dapat diatur. Bila dapat, temperatur antara periode gelap dan terang diatur berbeda sehingga proses fisiologis yang diinginkan dapat terjadi. Banyak laporan menyatakan bahwa temperatur yang baik untuk pertumbuhan tanaman dalam in vitro antara 25-280 C yang merupakan suhu ruangan normal. Beberapa perlakuan khusus kadang-kadang membutuhkan suhu yang rendah, misalnya untuk pengumbian pada kultur kentang, suhu yang diperlukan adalah 18-20o C. Suhu ruangan di negara tropis dapat diturunkan dengan pemasangan AC. Pemakain AC mutlak, karena ruang kultur merupakan ruang tertutup yang sedikit sekali mempunyai aliran udara bebas.

Alat-alat yang diperlukan dalam ruang kultur adalah :
1. Rak-rak kultur 3-4 tingkat dengan lampu fluorescent atau lampu TL.
2. Timer untuk mengatur lama penyinaran.
3. AC dan remote untuk mengatur temperature.
4. Mikroskop binokuler dan mikroskop inverted.
5. Alat-alat penunjang (kertas millimeter, penggaris, alat pembesar, dan sebagainya).
6. Shaker horizontal dan fermentor.

http://anton-kulturjaringan.blogspot.co.id/2011/06/kultur-jaringan.html

metode kultur jaringan

Metode

Metode perbanyakan tanaman secara in vitro dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu melalui perbanyakan tunas dari mata tunas apikal, melalui pembentukan tunas adventif, dan embriogenesis somatik, baik secara langsung maupun melalui tahap pembentukan kalus.[2] Ada beberapa tipe jaringan yang digunakan sebagai eksplan dalam pengerjaan kultur jaringan.[5] Pertama adalah jaringan muda yang belum mengalami diferensiasi dan masih aktif membelah (meristematik) sehingga memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi.[5] Jaringan tipe pertama ini biasa ditemukan pada tunas apikal, tunas aksiler, bagian tepi daun, ujung akar, maupun kambium batang.[11] Tipe jaringan yang kedua adalah jaringan parenkima, yaitu jaringan penyusun tanaman muda yang sudah mengalami diferensiasi dan menjalankan fungsinya.[11] Contoh jaringan tersebut adalah jaringan daun yang sudah berfotosintesis dan jaringan batang atau akar yang berfungsi sebagai tempat cadangan makanan.[11]

 https://id.wikipedia.org/wiki/Kultur_jaringan

 

pengertian kultur jaringan

Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali.[1]

https://id.wikipedia.org/wiki/Kultur_jaringan

perbanyakan mawar dengan cara stenting

Perbanyakan Mawar Secara Stenting (Stek dan Grafting)

Pada perbanyakan stenting yakni perbanyakan menggunakan teknik setek dan teknikgrafting yang dilakukan secara bersamaan merupakan cara perbanyakan yang lebih efisisendilakukan oleh pengusaha benih mawar pada umumnya diluar negeri. Teknik ini memiliki beberapa keuntungan diantaranya ialah lebih cepat dilakukan perbanyakan, karena pada saat penyambungan tidak menunggu batang bawah berakar terlebih dahulu, menggunakan bahantanam yang lebih sedikit (satu mata tunas + daun dari batang atas dan satu ruas batang bawahtanpa daun), sehingga pada saat tanaman ditanam di lapang tidak tumbuh tunas liar dari batang bawah, yang akhirnya akan dapat meringankan biaya pemeliharaan.Penggunaan mata berdaun pada teknik
stenting
ini memerlukan penanganan khususuntuk menghindari kelayuan sampai bertautnya kambium serta tumbuhnya akar dan tunas.Untuk menjamin keperluan tersebut, maka disekeliling daun harus dipertahankan agarselaludalam keadaan lembab. Cara yang banyak dilakukan untuk mempertinggi kelembaban iniyaitu dengan pengkabutan secara periodik (intermitten misting). Dengan teknik ini memberilapisan air pada permukaan daun danbatang, merendahkan suhu dan meningkatkankelembaban sekitar daun, sehingga akan mengurangi laju respirasi dan transpirasi.Keberhasilan penyambungan sebagian besar disebabkan hubungan kambium yang rapatdarikedua tanaman (batang bawah dan batang atas) yang disambungkan atau terjadinya pertautan/jalinan meristematik antara keduanya (Darliah,2008).Prosedur Kerja Perbanyakan Secara Stenting yaitu(Darliah,2008)
:
1. Sebagian batang bawah dapatdigunakan mawar pagar (R. multiflora) atau Multic, terdiridari 1-2 ruasdengan panjang ± 5 cm.

2. Batang atas terdiri dari yang dipotong± 1 cm di atas mata tunas.

3. Batang atas dan batang bawah dikeratdengan pisau/cutter, sehingga membentuk sudut 30
o
.4. Batang atas dan batang bawahdisambungkan satu sama lain denganpenjepit untukmenjemur pakaian atauparafilm.5. Media tanam yang dipakai yaitu arangsekam atau campuran arang sekam dankompos daun bambu (1:1).6. Penanaman dilakukan dengan jaraktanam 10 cm x 10 cm7. Selanjutnya tanaman ditempatkandalam rumah plastik atau rumah kacayang cahayanyadikurangi denganpemasangan paranet 55%.

8. Periode pengkabutan diatur setiap 8menit kabut keluar selama 10 detik.
Pemeliharaan Tanaman Mawar
1.

PenyianganKegiatan penyiangan biasanya bersamaan dengan pemupukan agar dapat menghemat biaya dan tenaga kerja. Rumput liar yang tumbuh pada selokan/parit antar bedengandibersihkan agar tidak menjadi sarang hama dan penyakit. Penyiangan sebulan sekali(tergantung pertumbuhan gulma), dengan mencabut rumput-rumput liar (gulma) secarahati-hati agar tidak merusak akar tanaman atau membersihkan dengan alat bantukored/cangkul.2.

PemupukanJenis dan dosis (takaran) pupuk yang dianjurkan untuk tanaman mawar adalah pupuk NPK (5-10-5) sebanyak 5 gram/tanaman. Bila pertumbuhan tunas lambat dipupuk NPK pada perbandingan 10:10:5, bila tangkainya lemah perbandingan pupuk NPK 5:15:5.Pemberian pupuk sebaiknya pada saat sebelum berbunga, sedang berbunga, dan setelahkuntum bunga layu. Cara pemberian pupuk dengan ditabur dalam paritparit kecil dandangkal diantara barisan tanaman atau di sekeliling tajuk tanaman, kemudian ditutupdengan tanah tipis dan segera disiram hingga cukup basah. Pengairan dan Penyiraman3. Pengairan dan penyiraman dilakukan:


a) Pada fase awal pertumbuhan (sekitar umur 1-2 bulan setelah tanam), dilakukan secarakontinu tiap hari 1-2 kali. Pengairan berikutnya berangsur-angsur dikurangi atautergantung keadaan cuaca dan jenis tanah (media). b) Waktu pemberian air yang baik pada pagi dan sore hari, saat suhu udara dan penguapan air dari tanah tidak terlalu tinggi.c) Cara pengairan adalah dengan disiram secara merata menggunakan alat bantu ember(gembor).

 https://akasia99.blogspot.co.id/2014/12/perbanyakan-mawar-dengan-cara-okulasi.html

perbanyakan mawar dengan cara okulasi

Perbanyakan Mawar dengan Cara Okulasi Mata Berkayu (Chip Budding)

Perbanyakan Mawar dengan Cara Okulasi Mata Berkayu (Chip Budding)

mawar

Perbanyakan mawar secara konvensional dilakukan dengan cara okulasi mata tunasyang bisa dilakukan setelah batang bawah berumur empat bulan pada saat kulit batang bawahmudah dikelupas karena pada saat tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium sedangdalam keadaan aktif.. Teknik perbanyakan mawar dengan cara okulasi mata tunas berkayu

(chip budding) dapat dilakukan dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan okulasi biasa karena tidak harus menunggu batang bawah mudah dikelupas. Pada teknik okulasi mata berkayu dapat dilakukan pada batang bawah hasil stek secara langsung (belum berakar)ataupun hasil stek setelah ditanam selama empat minggu yang sudah mempunyai akar.Menurut IPTEK Hortikultura (2005) teknik perbanyakan mawar dengan cara okulasi mata berkayu (chip budding) dapat dilakukan melalui prosedur sebagai berikut :1. Persiapan Media

Menyiapkan media untuk pertanaman bawah yangdimasukkan ke dalam polybag ukuran 10-12 cm.Media dapat berupa tanah atau tanah dengan capuranarang sekam dan kompos.2. Persiapan batang bawah

Ambil batang mawar pagar yang cukup tua dan buang daunnya

Potong bagian pucuk dari 1/3 batang lalu buang

Tanam bagian bawah dengan panjang ±15 cm3. Persiapan batang atas/entres

Siapkan tangkai bunga mawar saat bunga sedang mekar dari varietas mawar lain yangdiingkan untuk di graffting.

Buang semua daun dan bunga4. Pelaksanaan okulasi mata berkayu

Siapkan stek batang bawah
Gb 1. Persiapan batang bawahdan media dalam polybagGb 2. Tangkai bunga yang siapdiambil entrisna


Buang duri di sekitar batang yang akan diokulasi lalu bersihkan dan buat keratanuntuk batas okulasi bagian bawah

Buat irisan diatas keratan ke arah bawah dengan mengikuti sedikit jaringan kayu,arahkan pisau hingga irisan berakhir pada keratan. Irisan berukuran kira-kira denganlebar 4-5 mm, panjang 1,5-2 cm, dan tebal 1-2 mm.

Ambil batang atas sebagai sumber entres. Buat irisan beserta kayunya berupakepingan mata tunas terletak di tengah-tengah irisan dengan ukuran yang sama sepertiirisan batang bawah.

Tempelkan kepingan mata tunas berkayu (entres) ke celah yang dibuat pada batang bawah.

Ikat mata tunas yang telah disisipkan ke batang bawah dengan menggunakan parafilmatau tali rafia.

Simpan bibit dibawah naungan dan setelah tumbuh tunas dari tempelan (10-14 hari)tunas dipotong ±2cm diatas mata tempel.
Perbanyakan Mawar
Pemeliharaan Bibit Okulasi
Kegiatan pokok pemeliharaan bibi okulasi antara lain adalah sebagai berikut(Rukmana, 1995) :a)

Penyiraman secara kontinyu agar tanah (medium tumbuh) tidak kekeringan.Penyiraman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. b)

Pemupukan 1-3 bulan sekali dengan campuran pupuk urea, TSP dan KCL (2:1:1) atau NPK (15-15-15) sebanyak 10-30 gram dilarutkan dalam 1 liter air. Larutan pupuktersebut diberikan dengan cara disiram atau dikocorkan kedalam medium tumbuhsebanyak 300cc-500cc larutan per tanaman.c)

Pemotongan ujung batang bawah tepat diatas bidang okulasi, setelah mata entrestumbuh berdaun 205 helai. Pemotongan dilakukan secara bertahap, mula-mula
Gb 5. Bibit hasil okulasi di naunganGb 6. Tempelan matatunas diiikat

Gb 7. Tunas dipotong 2 cm diatasmata tunas

setengah bagian batang dambil direbahkan, kemudian selang 1-3 bulan dipotongseluruhnya.
Perbanyakan Mawar Secara Stenting (Stek dan Graftingsetengah bagian batang dambil direbahkan, kemudian selang 1-3 bulan dipotongseluruhnya.

 https://akasia99.blogspot.co.id/2014/12/perbanyakan-mawar-dengan-cara-okulasi.html

macam-macam stek

Setek terdiri dari beberapa macam yaitu:
1.      Stek Daun
Setek daun merupakan salah satu teknik setek yang menggunakan bagian daun tanaman atau daun yang bertunas. Tanaman yang bisa diperbanyak melalui setek daun adalah tanaman hias seprti cocor bebek dan tanaman jeruk yang berbuahnya masam banyak menyimpan energi sehingga lebih mudah disetek.
2.      Stek Batang
Setek batang merupakan salah satu perbanyakan vegetatif tanaman dengan menggunakan potongan batang, cabang, atau ranting tanaman induknya. Setek batang disebut juga setek kayu atau setek ranting.  Setek batang banyak digunakan untuk memperbanyak tanaman hias dan tanaman buah. Syarat mutlak tanaman yang akan diperbanyak secar setek batang adalah harus memiliki kambium.   
3.      Stek Umbi
Pada stek umbi, bahan awal untuk perbanyakan berupa umbi, yaitu: umbi batang, umbi kakr, umbi sisik, dan lain-lain. Sebagai bahan perbanyakan, umbi dapat digunakan utuh atau dipotong-potong dengan syarat setiap potongannya mengadung calon tunas. Untuk menghindari terjadinya busuk pada setiap potongan umbi, maka umbi perlu dierandap dalam bakterisida dan fungisida. Contoh tanaman yang bisa diperbanyak dengan stek umbi antara lain: Solanum tuberosum, Ipomoea batatas, Caladium, Helianthus tuberosus, Amarilis, dan lain-lain.
 
 http://ika-akmala.blogspot.co.id/2011/12/pembiakan-dengan-cara-setek.html

pembiakan dengan cara stek

PEMBIAKAN DENGAN CARA SETEK



Setek atau cutting merupakan salah satu teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif. Setek merupakan pemotongan organ dari induk yang kemudian ditanam di medium agar menumbuhkan akar dan tunas batang. Setek banyak dilakukan untuk memperbanyak tanaman hias dan tanaman buah.
Keunggulan setek:
  • Sifat tanaman baru sama dengan sifat induknya.
  • Bagian tanaman induk yang diperlukan sebagai bahan setek relatif sedikit, sehingga tidak merugikan tanaman induk.
  • Menghasilkan tanaman yang sempurna yaitu tanaman yang telah memiliki akar, batang dan daun.
  • Setek mudah dilakukan dan tidak memerlukan teknologi yang rumit.
  • Biaya yang dikeluarkan sedikit dan waktu yang diperlukan relative singkat.
  • Jumlah tanaman yang dihasilkan lebih banyak dari pada cangkok dan okulasi.
  • Tanaman baru hasil setek memiliki keseragaman umur
Media yang diperlukan dalam perbanyakan setek adalah:
  • Campuran tanah dan pupuk kandang yang sudah jadi dengan perbandingan ( 1 : 1 ).
  • Campuran tanah, pasir halus dan pupuk kandang dengan perbandingan ( 1 : 1 : 1 ).
Cara perlakuan-perlakuan setek yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
  • Setelah bahan setek dipisahkan dari tanaman induk (kecuali setek daun), bagian pangkal segera direndam dengan air atau dicuci dengan air yang mengalir. Tujuannya supaya jaringan pengangkut tidak terisi udara. Dengan demikian, bahan setek akan cepat menyerap air dan mineral dari media tanam.
  • Untuk mempercepat pertumbuhan akar, dapat digunakan Rooton F. Pangkal setek dalam keadaan basah dimasukkan ke dalam Rooton F.
  • Lembaran daun yang ada dibahan setek dipotong setengahnya. Pemotongan daun ini bertujuan untuk mengurangi penguapan.
Setek dapat disemaikan dalam polibag atau bedengan selama bahan setek disemai, keadaan lingkungan media semai harus terlindung dari sinar matahari dan air hujan langsung dengan cara menyiapkan atap atau naungan. Media semai harus disiram secara rutin supaya tetap lembab. Pada musim kemarau setek disiram dua kali sehari sedangkan pada musim hujan cukup disiram sehari sekali. Air sisa siraman harus dapat mengalir secara lancer dari polibag atau bedengan.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kegagalan setek yaitu:
·         Kondisi batang yang masih muda, pada kondisi batang yang masih muda memiliki kandungan karbohidrat rendah tetapi hormonnya cukup tinggi, hal ini yang menyebabkan pucuk tumbuh lebih cepat dibandingkan akar.
·         Kondisi pisau yang kurang steril, agar pisau yang digunakan steril yaitu dengan menggunakan alkohol, dengan menggunakan alkohol akan membersihkan bakteri-bakteri yang terdapat pada pisau dan menghindari menempelnya bakteri pada luka setek yang bisa menyebabkan kegagalandalam setek. 
·         Kekeringan.

Setek atau Cutting merupakan salah satu teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif. Tanaman yang disetek, dipotong di salah satu bagiannya. Potongan tanaman bisa langsung ditanam pada medium tanah. Setek bnyak dilakukan untuk memperbanyak tanaman-tanaman hias dan tanaman buah, seperti: anggur, markisa, sukun, jeruk nipis, apel, panili, sirih. Sebagai alternarif perbanyakan vegetatif buatan, stek lebih ekonomis, lebih mudah, tidak memerlukan keterampilan khusus dan cepat dibandingkan dengan cara perbanyakan vegetatif buatan lainnya. Cara perbanyakan dengan metode stek akan kurang menguntungkan jika bertemu dengan kondisi tanaman yang sukar berakar, akar yang baru terbentuk tidak tahan stress lingkungan dan adanya sifat plagiotrop tanaman yang masih bertahan. Keberhasilan perbanyakan dengan cara stek ditandai oleh terjadinya regenerasi akar dan pucuk pada bahan stek sehingga menjadi tanaman baru yang true to name dan true to type
Regenerasi akar dan pucuk dipengaruhi oleh faktor intern yaitu tanaman itu sendiri dan faktor ekstern atau lingkungan. Salah satu faktor intern yang mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk adalah fitohormon yang berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh. Boulline dan Went (1933) menemukan substansi yang disebut rhizocaline pada kotiledon, daun dan tunas yang menstimulasi perakaran pada stek. Menurut Hartmann et al (1997), zat pengatur tumbuh yang paling berperan pada pengakaran stek adalah Auksin. Auksin yang biasa dikenal yaitu indole-3-aceticacid (IAA), indolebutyric acid (IBA) dan nepthaleneacetic acid (NAA). IBA dan NAA bersifat lebih efektif dibandingkan IAA yang meruapakan auksin alami, sedangkan zat pengatur tumbuh yang paling berperan dalam pembentukan tunas adalah sitokinin yang terdiri atas zeatin, zeatin riboside, kinetin, isopentenyl adenin (ZiP), thidiazurron (TBZ), dan benzyladenine (BA atau BAP). Selain auksin, absisic acid (ABA) juga berperan penting dalam pengakaran stek. Faktor intern yang paling penting dalam mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk pada stek adalah faktor genetik. Jenis tanaman yang berbeda mempunyai kemampuan regenerasi akar dan pucuk yang berbeda pula. Untuk menunjang keberhasilan perbanyakan tanaman dengan cara stek, tanaman sumberseharusnya mempunyai sifat-sifat unggul serta tidak terserang hama dan/atau penyakit. Selain itu, manipulasi terhadap kondisi lingkungan dan status fisiologi tanaman sumber juga penting dilakukan agar tingkat keberhasilan stek tinggi.

 http://ika-akmala.blogspot.co.id/2011/12/pembiakan-dengan-cara-setek.html